Sebentuk Asa bagi Indonesia Ku

Sejuknya pagi tidak lagi ramah

Teriknya mentari tidak lagi bersahabat

Gelapnya malam tidak lagi terasa tenang

Bahkan keindahan cinta tak lagi bersemayam

 

Hiruk pikuk di kesunyian hati

Tak terfikirkan menghadirkan duka yang perih,

Geliat bagi sang bumi

Adalah luka bahkan suara-suara yang menyayat

 

Bukit-bukit laksana benteng perkasa

Kau hempaskan hingga pada akarnya

Luasnya lautan di bumi persada

Kau selimuti ombak yang siap menjilat langkah manusia

 

KebesaranMu telah terlihat

KebencianMu telah terbaca dan,

Kekecewaanmu telah terbukti

Pada kami hambaMu yang tiada berdaya

 

Tuhan… masih adakah asa yang tersisa bagi kami

sebentuk asa di hati yang nestapa

setitik Iba pada wajah-wajah yang lara

segenggam jiwa yang penuh dengan gulana

Indon bukan Indonesia

Jenuh rasanya mendengar istilah Indon yang tiada henti-hentinya mengalir bagai air di perkebunan kelapa sawit, Sabah – Malaysia ataupun di media audia ataupun visual.

Istilah tersebut ternyata sudah menyatu dalam kehidupan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)  secara turun temurun tanpa ada sanggahan dari siapapun. Terlebih sebelum kedatangan guru Indonesia ke Sabah, rupanya tenaga kerja kita tidak tahu dan memang tidak paham makna dari istilah tersebut.

Istilah itu tampaknya seperti perkataan yang sangat biasa bagi mereka. Akan tetapi bagi kita kaum intelektual tentu akan mengambil makna yang tersirat daripada istilah tersebut.

Tugas kita tentunya untuk memberi pengetahuan lebih mengenali kepada mereka  istilah tersebut agar mereka lebih paham untuk di kemudian hari.

The Snow of Idul Fitri

05-b

It’s feels like in the heaven

Whenever I heard Takbir Ilahi

Surrounds in our mind

And watering our soul

It is not only blue, yellow or grey

But it’s feels like white and pureness

Whenever Asma Allah SWT

Stay in our heart

It could be the last

Or might be the first

Whenever the snow of Idul Fitri

Make the thing being collide

In fact, I only can say

Happy Idul Fitri 1430 H

To clean up my sin in yours

And make it Fitri for us

Baturong 3, 2 November 2006

« Entri lama