Bahasa Selingan

Ironis ketika membaca wacana mengenai Bahasa Indonesia yang katanya telah dipelajari oleh beberapa negara baik di Asia ataupun Eropa di salah satu media Internet. Bukannya meragukan namun hal tersebut sejujurnya menimbulkan rasa penasaran  dan banyak pertanyaan. Apakah mungkin?

Mengapa tidak? dan bukannya mengecilkan bangsa sendiri namun agaknya hal tersebut sangat berlebihan dan belum saatnya berbangga hati karena sepengetahuan saya anak-anak luar yang bersekolah di Indonesia khususnya sekolah Internasional kurang meminati pelajaran Bahasa Indonesia.

Kebanyakan dari mereka merasa bahwa belajar bahasa Indonesia tidak penting karena bukan merupakan bahasa International sehingga  kalaupun mereka mempelajari bahasa Indonesia itu merupakan suatu keterpaksaan belaka karena bahasa Indonesia ada dalam kurikulum Indonesia dan mau tidak mau sekolah internasional baik yang menggunakan sistem kurikulum negara manapun harus compare dengan kurikulum pendidikan di Indonesia.

Kalaupun memang ada yang tertarik dengan bahasa Indonesia itupun turis asing yang sudah lama bersosialisasi dengan penduduk lokal sehingga mau tidak mau untuk dapat berkomunikasi dan memperoleh data dari nara sumber mereka mencoba mempelajarinya dan itupun secara otodidak bukannya melalui pendidikan formal dimana tidak harus mempelajari tata bahasa, struktur dan lain-lainnya.

Indon bukan Indonesia

Jenuh rasanya mendengar istilah Indon yang tiada henti-hentinya mengalir bagai air di perkebunan kelapa sawit, Sabah – Malaysia ataupun di media audia ataupun visual.

Istilah tersebut ternyata sudah menyatu dalam kehidupan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)  secara turun temurun tanpa ada sanggahan dari siapapun. Terlebih sebelum kedatangan guru Indonesia ke Sabah, rupanya tenaga kerja kita tidak tahu dan memang tidak paham makna dari istilah tersebut.

Istilah itu tampaknya seperti perkataan yang sangat biasa bagi mereka. Akan tetapi bagi kita kaum intelektual tentu akan mengambil makna yang tersirat daripada istilah tersebut.

Tugas kita tentunya untuk memberi pengetahuan lebih mengenali kepada mereka  istilah tersebut agar mereka lebih paham untuk di kemudian hari.

Memilih Pasangan = Membeli Barang Dagangan

Pada suatu ketika seorang duda kaya beranak dua berniat untuk mempersunting seorang gadis untuk dijadikan istri. Gadis tersebut sangat cantik, ramping, dan bahenol.

Karna tidak mendapat izin dari sang gadis maka sang duda pun naik banding pada si ibu gadis tersebut. Walhasil, tanpa cerita panjang lebar sang duda pun diterima seluas-luasnya oleh sang ibu. (Jelas aja diterima oleh si ibu, la wong si duda pas mau ngelamar bawa mobil double cab keluaran terbaru). Dan mau tidak mau akhirnya sang gadis pun mengikuti keinginan ibunya karna takut kualat.

Pucuk di cinta ulam pun tiba, akhirnya mereka mengadakan resepsi besar-besaran. (karna bangganya sang duda telah mendapatkan sang gadis pujaan).

Setelah resepsi pernikahan selesai seperti orang kebanyakan sang duda pun tidak mau melewatkan MP (malam pertama) dengan sang gadis. Tanpa kompromi sang duda pun melepaskan pakaian sang gadis satu persatu.

@#$%^ betapa kagetnya sang duda ketika mendapatkan sang gadis sudah tidak perawan. Tapia pa boleh buat karna sudah terlanjur beli sang duda pun menerima sang gadis dengan lapang dada sambil mengusap usap dada.

Situasi tersebut mungkin sudah bukan zamannya lagi diperdebatkan. Meskipun ada beberapa orang yang masih menginginkan pasangannya dalam keadaan sempurna.

Namun bukan itu yang menjadi bahasan saya ketika memposting artikel ini melainkan rutinitas laki2 dan perempuan terhadap pasangan yang akan dinikahkannya. Artinya baik lelaki ataupun perempuan sama-sama tidak ingin kecewa di dalam memilih pasangan hidup sehingga mereka memutuskan untuk melakukan tawar menawar sebelum beralih ke jenjang pernikahan. Salah satunya denga berkomitmen melakukan hubungan intim pra nikah. Dan itu diyakini beberapa pihak Sesuatu hal yang wajar.

—coba dulu…. baru beli—-