PENCURI HATI PRIA

Dengan parasku

Aku bisa menaklukan pria

Dengan bisikanku

Aku bisa mencuri dia

Dengan pesonaku

Aku bisa menarik hati pria

Dengan senyumanku

Aku bisa mencuri dia

Apalagi dengan itu …..

Aku akan menjerat hati pria

Apalagi dengan itu ……

Aku akan mencuri hati pria

Karna aku sang pencuri hati pria

Maka aku kan selalu mencuri hati pria

Karna aku sang pencuri hati pria

Maka aku akan bangga karenanya

JENUH

jenuh sering ku dengar

pada gemerlapnya malam suatu kota

tapi bukan di sini

pada malam yang hanya terdengar lolongan anjing

jenuh membuat pikiranku carut marut

bagai asap di pipa cerobong

karuan terbawa hembusan angin

yang tak tau mau dibawa kemana

jenuh memungkinkan aku berfikir satu

tidak dua ataupun tiga kali

karna jenuh membuatku mati langkah

tak tahu harus berbuat apa

jenuh tak pernah membuat solusi

karna jenuh mempersekutukan ku

bahkan semakin membawaku

pada rasa marah yang tak terkira

Lamuru, 14 Januari 2009

Bahasa Selingan

Ironis ketika membaca wacana mengenai Bahasa Indonesia yang katanya telah dipelajari oleh beberapa negara baik di Asia ataupun Eropa di salah satu media Internet. Bukannya meragukan namun hal tersebut sejujurnya menimbulkan rasa penasaran  dan banyak pertanyaan. Apakah mungkin?

Mengapa tidak? dan bukannya mengecilkan bangsa sendiri namun agaknya hal tersebut sangat berlebihan dan belum saatnya berbangga hati karena sepengetahuan saya anak-anak luar yang bersekolah di Indonesia khususnya sekolah Internasional kurang meminati pelajaran Bahasa Indonesia.

Kebanyakan dari mereka merasa bahwa belajar bahasa Indonesia tidak penting karena bukan merupakan bahasa International sehingga  kalaupun mereka mempelajari bahasa Indonesia itu merupakan suatu keterpaksaan belaka karena bahasa Indonesia ada dalam kurikulum Indonesia dan mau tidak mau sekolah internasional baik yang menggunakan sistem kurikulum negara manapun harus compare dengan kurikulum pendidikan di Indonesia.

Kalaupun memang ada yang tertarik dengan bahasa Indonesia itupun turis asing yang sudah lama bersosialisasi dengan penduduk lokal sehingga mau tidak mau untuk dapat berkomunikasi dan memperoleh data dari nara sumber mereka mencoba mempelajarinya dan itupun secara otodidak bukannya melalui pendidikan formal dimana tidak harus mempelajari tata bahasa, struktur dan lain-lainnya.