MALAIKAT DARI SURGA

Hari ini tidak biasanya Ade pulang lebih cepat dari sekolah. Ketika aku tanyakan kenapa, Ade hanya terdiam. Enggan menjelaskannya padaku. Tanpa mencium tanganku terlebih dahulu Ade langsung mengurung diri di dalam kamar tidurnya dengan raut muka yang ditekuk ke dalam. Sampai-sampai seragamnya pun masih tetap dikenakan di tubuhnya.

Aku jadi teringat saat kejadian tadi pagi. Dengan langkah yang gontai, pagi-pagi sekali Ade sudah berada di sisi jendela kamar tidurku. Ia tampak sibuk sekali memperhatikan luar rumah sambil sesekali menggerutu dan mengeluarkan kata-kata yang tak kupahami. Semula aku fikir ia sedang merajuk untuk minta mainan yang telah ia minta sebulan yang lalu padaku. Atau, aku fikir dia sedang berpura-pura sakit di depanku agar aku tidak mengizinkannya masuk ke sekolah hari ini.

Tapi sepertinya aku salah, karena sedikitpun ia tidak memalingkan pandangannya ke arahku. Bahkan ia tetap terpaku melihat ke arah luar jendela dengan tatapan matanya yang liar. Tanpa memperdulikan keberadaanku di dalam kamar yang telah memperhatiankannya sekian lama dari arah tempat tidurku.

“De, kamu kenapa melihat ke luar terus, ada yang di tunggu ya?” tanyaku pada Ade sambil menguap karena masih mengantuk.

“Engga kok mah, engga ada apa-apa”. Sahut ade yang langsung menghampiriku di sisi ranjang tempat tidurku.

Akupun langsung memeluk dan mencium pipinya penuh kasih sayang sambil mengucapkan selamat pagi padanya penuh kemesraan. Begitupun dengan dia yang kemudian membalas pelukanku. Menyapaku dengan nada suara yang parau seperti orang yang masih mengantuk.

Setelah sekian lama, tanpa kusadari lengan pada tangan kananku telah basah karena tetesan air yang kutahu adalah air mata Ade. Aku menjadi panik seketika dengan tetesan air mata itu. Namun ketika aku tanyakan mengapa, ia tetap saja mengelak dan mengalihkan pertanyaanku dengan senyumannya yang terasa sangat dipaksakan.

“De, kamu ini kenapa sih sayang?” tanyaku sekali lagi padanya dengan suara yang lembut.

“Engga kok mah, engga ada apa-apa. Ade cuma kepingin kalau hari ini Ade ngga diantar sama mama ke sekolah. Ngga apa-apa kan, mah?” pinta Ade padaku sambil menyembunyikan kesedihannya itu.

“Lho, kok tumben. Memangnya Ade malu ya sama teman-teman kalau mama antar ke sekolah?” kataku penuh tanda tanya.

“Engga. Ade ngga malu. Soalnya kemarin di sekolah Ade udah janjian sama teman-teman Ade untuk berangkat ke sekolah bareng. Jadi gimana?, ngga apa-apa kan mah kalau hari ini Ade berangkat sendirian?” rajuk Ade padaku dengan mengulangi pertanyaannya yang sama.

Sejenak aku meragukan keinginan Ade yang ingin berangkat sendirian ke sekolah dengan teman-temannya. Namun sempat terbesit dibenakku. Mungkinkah Ade benar-benar ingin berangkat sendirian atau itu cuma rekayasanya saja karena segan kuantar ke sekolah.

Sejauh mungkin kutepiskan rasa curiga itu. pikirku, mungkin ada baiknya dia mulai mendekatkan diri dengan teman-teman seusianya di sekolah.

“Ya sudah. Sekarang Ade mandi dulu ya sama ayah. Sementara mama akan membuatkan sarapan spesial buat kalian berdua. Ok”. Ucapku pada Ade sambil bangkit dari ranjang tidurku.

Entah apa yang difikirkan Ade pagi itu. Karna siang ini sepulang Ade sekolah dia kembali mengunci kamarnya. Kini aku kembali menghampiri kamarnya yang masih terkunci dari dalam sambil mengetuk dan memanggil-manggil namanya dari luar. Tapi sepertinya itu sia-sia saja, karena Ade tidak sedikitpun memberikan jawaban ketika mendengar suaraku dari luar.

Sementara Ade di dalam kamar, perlahan aku mencoba menelpon wali kelas Ade tanpa sepengetahuannya. Aku berharap, mungkin wali kelas Ade dapat memberikan penjelasan padaku. Namun menurut keterangan wali kelasnya, Ade pulang karena sakit. Sehingga dia tidak merasa curiga ketika Ade pamit untuk pulang lebih awal hari ini.

Aku kembali termangu memikirkan keadaannya yang membuatku semakin panik. Di dalam benakku, Kalaupun Ade sakit kenapa dia tidak merajuk padaku seperti biasanya. Setidaknya menelponku untuk dapat menjemputnya di sekolah tadi pagi.

“Ini aneh..Benar-benar aneh”. Gumamku dipenuhi tanda tanya.

Sesaat, kulihat teman-teman Ade yang baru pulang dari sekolah melintas di depan rumahku. Mereka tampak bersorak dan berteriak-teriak memanggi nama Ade dari luar dengan kalimat-kalimat yang aneh bagiku. Aku mencoba mendengarkan teriakan-teriakan mereka lebih dalam dan mencoba menelaah kata-kata itu satu per satu dengan kalimatku sendiri.

Setelah sejenak memikirkan makna kata-kata tersebut, akhirnya aku mengerti maksud dari semua ini. Akupun segera bangkit dari sofa tempatku duduk dan kemudian menghampiri kamar Ade yang masih tetap terkunci rapat dari dalam kamar.

Kembali kupanggil-panggil nama Ade dengan lembut sambil merayu dirinya dengan mainan yang ia minta sebulan lalu.

Setelah seperempat jam menunggu, akhirnya Ade membukakan pintunya untukku.

Dengan raut muka yang memerah dan tangis yang tersedu-sedu iapun berlari memelukku dengan penuh kesedihan. Disela-sela tangisnya, Ade mencoba mengutarakan sesuatu tentang kematian yang membuatku tercengang mendengarnya.

Aku tidak langsung menanyakan tentang kerisauan yang ia tumpahkan padaku saat itu. Aku tetap membiarkan Ade menangis sampai ia merasa sanggup untuk menceritakannya padaku.

“Mah, maafin Ade ya mah. Maafin Ade selama ini. maafin Ade ya mah”. Teriak Ade padaku disela-sela tangisnya yang semakin tersedu-sedu.

“De, kamu kenapa. Memangnya kamu sudah buat salah apa hari ini sama mama?” tanyaku memancing pernyataannya, sambil membelai rambutnya dengan tangan kananku.

“Ngga. Pokoknya mama harus maafin semua kesalahan Ade, karena sebentar lagi Ade akan di Jemput malaikat untuk ke pergi surga”.

Kata Ade mencoba menyakinkanku dengan pernyataan-pernyataannya yang tidak masuk akal.

“De, coba ade tenang dulu. Masalahnya mama ngga mengerti maksud pembicaraan kamu!”. Kataku sambil melangkahkan kakiku ke ruang makan dan meraih gelas yang bersebelahan dengan dispenser didepanku.

Ade tidak bergeming sedikitpun. Ia masih saja menangis penuh kesedihan sambil terus memelukku dengan erat. Bahkan semakin erat.

“Nah, sekarang coba kamu minum air putih ini dahulu. Kemudian kamu ceritakan pada mama tentang malaikat yang tadi sambil tiduran di dalam kamar, ok!” pintaku pada Ade dengan lembut dan penuh ketenangan.

Kamipun segera berlalu kedalam kamar. Ketika aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, Adepun tetap mendekapkan tubuhnya padaku penuh ketakutan.

“Begini mah, Kemarin teman-teman Ade bilang kalau di TV banyak anak-anak yang sakit busung lapar dijemput malaikat dari surga” cerita Ade padaku dengan suara terisak-isak karena menahan tangisnya.

“Lalu”. Pintaku pada Ade untuk meneruskan ceritanya.

“Kemudian kata mereka mah, sebentar lagi Ade juga bakal dijemput malaikat dari surga karena perut Ade seperti anak-anak yang ada di TV itu mah.. Ade takut mah.. Ade ngga mau mah.. Ade ngga mau dijemput malaikat itu mah. Ade ngga mau pisah sama mama. Ade sayang sama mama. Ade sayang banget sama mama”. Ucap Ade berkali-kali meyakinkanku atas perasaannya yang tulus.

“Iya. Iya. Mama tahu. Mama juga sayang banget sama Ade”. Kataku mencoba menenangkan perasaan Ade yang penuh kerisauan. “Sekarang Ade tenang dulu, sementara mama akan mencoba menjelaskan kenapa anak-anak yang TV itu perutnya buncit”. Kataku mencoba memulai penjelasanku pada Ade dengan sangat perlahan.

“Begini de, Anak-anak yang ada di TV itu perutnya membesar karena mereka memang sedang mengidap sakit busung lapar. Ade tahu sakit busung lapar itu apa?” tanyaku pada Ade.

“Ngga”. Jawab Ade sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Busung lapar itu adalah penyakit bagi orang-orang yang kurang gizi, misalkan saja Ade malas makan atau tidak mau makan sayur-sayuran. Maka Ade akan mudah terserang sakit busung lapar karena tidak memenuhi gizi yang seimbang. Yah kalau istilah kerennya “Empat sehat lima sempurna” gitu” candaku pada Ade yang terlihat serius menyimak penjelasanku. Itulah yang menyebabkan kenapa anak-anak yang TV itu bisa sakit busung lapar. Ade tahu kan kandungan empat sehat lima sempurna itu apa?” tanyaku mengetes pengetahuan anakku.

“Tau dong mah”. Jawab Ade tegas. “Anak mama memang Pintar” pujiku seraya mengalihkan kesedihan Ade yang kini telah mereda. “Jadi, Ade mengerti kan kalau Ade ini gendut bukan karena busung lapar”. candaku sambil mencium kedua pipi anakku. Senyum Adepun kembali merekah dengan raut muka yang memerah karena merasa malu. Keceriaan Ade kini hadir seiring dengan pelukannya yang lembut di dekapanku.

Rabu, 6 Juli 2005