Filosofi siri (harga diri) lekat sekali dengan Arung Palakka hingga menimbulkan kontroversi terhadap sejarah. Mengapa tidak?
Kembali pada kisah Arung Palakka yang sempat melakukan pelarian ke tanah Buton. Tepatnya pada goa yang ceruk-ceruk demi menghindari perseteruan dengan rakyat Gowa yang notabene nya berada dalam satu lingkup Sulawesi. Bisa dibilang sebuah pelarian yang bukan sia-sia.
Sikap siri (harga diri) yang telah di pupuk Arung Palakka benar-benar telah mendarah daging oleh rakyat Bone. Bahkan sampai kini jejak-jejak itu terus ditapaki.
Namun apakah kepergian rakyat Bone untuk bekerja di negeri jiran, Sabah Malaysia merupakan salah satu sikap mempertahankan siri (harga diri)?
Padahal hampir setiap kolom di media massa ataupun media elektronik memberitakan tentang mereka yang hampir tidak memiliki siri (harga diri).
Mengapa tidak? Mungkin sebelum tulisan ini di posting kawan-kawan pernah mendengar peristiwa tahun 2004 di koran tempo sebanyak 300 ribu tenaga kerja Indonesia dipulangkan selama masa amnseti atau berita mengenai 700 TKI ilegal yang dipulangkan dan masih banyak lagi peristiwa lainnya. (baca di www.tempo.co.id/hg/nasional/2004/10/27/brk,20041027-62,id.html)
Ironisnya jumlah TKI yang menuju Sabah menurut sumber detiknet mencapai 50 sampai 500 orang per harinya.
Sementara baru-baru ini terdapat berita yang mencuat mengenai puluhan ribu anak TKI di Sabah yang tidak sekolah semenjak 20 tahun silam. (baca di www.indonesianteacher.blogspot.com/)
Apakah ini implementasi siri (harga diri) versi rakyat bone?