Flash Back

Aku masih terenyuh dengan beberapa flash back yang membuatku enggan untuk menapaki hari. Akhirnya hanya ini yang bisa aku lakukan meski tak seindah karya Kahlil Gibran, W.S Rendra, Rieke Diah Pitaloka ataupun sastrawan lainnya. Namun, paling tidak inilah aku. Wah kayak judul puisi Aja.

Aku masih teringat ketika aku berada di tanah Sabah, Malaysia dimana suasana itu mengingatkan aku pada buku Perjalanan Pendidikan di Tanah Air (1800-1945) karya H Najamuddin dan menginspirasikan ku dengan serangkaian kata yang awut-awutan.

P R I S I O N E R


It’s might be me!

the prisioner

who dance and sing

in a cube space

on earth


It’s might be you!

the prisioners

who sat down in the corner

watching along the milkyway

out on the sky


or,

It’s might be them

the prisioner

who can escape from the emptiness

without smelling

the unique of the world


but,

It’s could be anyone

who can free themselves

with their skill and knowledge

into the succesfull

in this earth


Puisi ini aku dedikasikan untuk murid-muridku di Baturong 3

Situasi ini tidak jauh berbeda dengan movie Laskar Pelangi. Suatu dilematis dalam bidang pendidikan yang belum tersentuh bahkan dijadikan proyek oleh pihak tertentu. Ironisnya sampai saat ini pemerintah belum menanggapi hal ini dengan serius bahkan masih membuat satu kelinci percobaan lagi dengan mengirimkan guru2 yang nota bene nya PNS untuk dapat mengajar anak- anak TKI dengan salah satu LSM nya Eropa.

Mungkin Indonesia disini sedang unjuk gigi dengan kedermawanannya meskipun di dalam negeri sendiri pun masih pincang. satu lagi ketidak efesienan pemerintah Indonesia dalam menghadapi permasalahan.

Sedangkan perbedaan pada movie laskar pelangi ada pada anugerah yang nyatanya tidak layak diberikan pada guru-guru baik yang tetap ataupun yang tidak tetap.  Karna penghargaan itu tetap menjadi mereka yang mampu mengangkatnya ke dalam media visual.

Hidup guru Indonesia ternyata masih tetap berada dalam konteks PAHLAWAN TANPA TANDA JASA.